Bos LPS: Jangan FOMO Saat Investasi

Berita341 Dilihat

Banyak anak muda yang sudah mulai berinvestasi di berbagai instrumen, mulai dari saham hingga kripto. Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Purbaya Yudhi Sadewa mengingatkan  generasi muda untuk tidak fear of missing out atau FOMO ketika berinvestasi.

“Kalau Anda fomo, akhirnya justru tertipu. Ada produk macam-macam, seperti robot trading yang membuat rugi. Banyak produk yang seperti itu lagi mencuat dari orang terkenal yang membawao oranguntuk  investasi di produknya sehingga malah rugi besar. Kesalahan investasi, karena sebenarnya tidak mengerti,” ujar Purbaya dalam acara LIKE IT 2023, di Jakarta, Senin (14/8).

Purbaya mengatakan, indeks literasi dan inklusi keuangan sebenarnya telah meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Data terakhir menunjukkan, indeks inklusi keuangan mencapai 88%, tetapi indeks literasi keuangan baru mencapai 53%. 

“Pada satu sisi, penetrasi produk dan jasa keuangan telah berkembang cukup pesat. Namun di sisi lain pemahaman atas risiko-risiko yang menyertai belum sepenuhnya dipahami oleh masyarakat,” katanya.

Dalam kesempatan yang sama, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo juga mengingatkan masyarakat agar tidak berinvestasi   hanya sekedar untuk tren dan panjat sosial. 

“Jangan ikut-ikutan, berinvestasi hanya untuk pansos ingin terkenal .Ojo melok-melok, ojo ikut-ikutan. Berinvestasi di pasar keuangan itu ojo ikut-ikutan karena gengsian,” ujar Perry dalam kesempatan yang sama. 

Berdasarkan data OJK, kerugian yang dialami masyarakat akibat investasi bodong sepanjang 2018 hingga 2022 sudah mencapai Rp 126 triliun.  Deputi Komisioner Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan dan Perlindungan Konsumen OJK Sarjito sebeliumnya mengatakan, nilai itu diprediksi bisa lebih besar lagi karena masih ada korban yang tidak melaporkannya atau silent victim.

Adapun penyebab maraknya investasi ilegal di Indonesia dari sisi pelaku adalah kemudahan membuat aplikasi, web, dan penawaran melalui media sosial, serta banyak server di luar negeri yang dipakai untuk mengelabui. Sementara dari sisi korban atau masyarakat, penyebabnya yaitu mudah tergiur bunga tinggi dan belum paham investasi.

Baca Juga  Ini Restoran Indonesia Pertama di AS, Wamen BUMN Rosan: Kuliner Kita Akan Mendunia : Okezone Economy

 

 

Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *